Perilaku adalah aktivitas suatu organisme akibat adanya suatu
stimulus. Dalam mengamati perilaku, kita cenderung untuk menempatkan
diri pada organisme yang kita amati, yakni dengan menganggap bahwa
organisme tadi melihat dan merasakan seperti kita. Ini adalah
antropomorfisme (Y: anthropos = manusia), yaitu interpretasi perilaku
organisme lain seperti perilaku manusia. Semakin kita merasa mengenal
suatu organisme, semakin kita menafsirkan perilaku tersebut secara
antropomorfik.
Seringkali suatu perilaku hewan terjadi karena pengaruh genetis
(perilaku bawaan lahir atau innate behavior), dan karena akibat proses
belajar atau pengalaman yang dapat disebabkan oleh lingkungan. Pada
perkembangan ekologi perilaku terjadi perdebatan antara pendapat yang
menyatakan bahwa perilaku yang terdapat pada suatu organisme merupakan
pengaruh alami atau karena akibat hasil asuhan atau pemeliharaan, hal
ini merupakan perdebatan yang terus berlangsung. Dari berbagai hasil
kajian, diketahui bahwa terjadinya suatu perilaku disebabkan oleh
keduanya, yaitu genetis dan lingkungan (proses belajar), sehingga
terjadi suatu perkembangan sifat.
Innate
perilaku hewan merupakan perilaku atau suatu potensi terjadinya perilaku yang telah
ada di dalam suatu individu. Perilaku yang timbul karena bawaan lahir
berkembang secara tetap/pasti. Perilaku ini tidak memerlukan adanya
pengalaman atau memerlukan proses belajar, seringkali terjadi pada saat
baru lahir, dan perilaku ini bersifat genetis (diturunkan).

Tukik yang mampu menuju laut meski tanpa pemandu
Insting
Adalah perilaku innate klasis yang sulit dijelaskan, walaupun
demikian terdapat beberapa perilaku insting yang merupakan hasil
pengalaman, belajar dan adapula yang merupakan factor keturunan. Semua
maklhuk hidup memiliki beberapa insting dasar.
Pola Aksi Tetap (FAP = Fixed Action Pattern )
FAP adalah suatu perilaku steretipik yang disebabkan oleh adanya stimulus yang spesifik. Contoh:
ü Saat anak burung baru menetas akan selalu membuka mulutnya,
kemudian induknya akan menaruh makanan di dalam mulut anak burung
tersebut.
ü Anak bebek yang baru menetas akan masuk ke dalam air. Perilaku
ini telah “diprogram sebelumnya”, dengan kata lain, tidak diperlukan
proses belajar.
ü Pada perilaku kawin pada burung merak (Pavo muticus), burung jantan akan menunjukkan keindahan warna ekor bulunya.
ü Induk burung tidak perlu belajar untuk memberi makan anaknya yang baru menetas, anak bebek tidak perlu belajar berenang.
Perilaku Akibat Proses Belajar
Proses belajar seringkali didefinisikan sebagai suatu upaya untuk
mendapatkan informasi dari adanya interaksi, atau suatu perilaku yang
memang telah ada pada organisme (hewan) dan cenderung memberikan
pengertian dari suatu upaya coba-coba. Kita ketahui bahwa perilaku
dipengaruhi oleh factor genetic, sehingga organisme (hewan)
JENIS-JENIS PERILAKU
Jenis – jenis perilaku dapat dibagi menjadi :
Perilaku tanpa mencakup susunan saraf
- Kinesis: yaitu gerak pindah yang diinduksi oleh
stimulus, tetapi tidak diarahkan dalam tujuan tertentu. Meskipun
demikian, perilaku ini masih terkontrol.
- Tropisme: yaitu orientasi dalam suatu arah yang
ditentukan oleh arah datangnya rangsangan yang mengenai organisme, pada
umumnya terjadi pada tumbuhan. Meskipun tropisme menunjukan suatu
perilaku yang agak tetap, tetapi tidak mutlak. Tetapi tanggapan yang
terjadi dapat berbeda terhadap intensitas rangsang yang tidak sama.
Misalnya : pada cahaya lemah terjadi fototropisme (+), tetapi pada
cahaya kuat yang terjadi fototropisme (-)
- Taksis : yaitu gerak pindah secara otomatis oleh
suatu organisme motil (mempunyai kemampuan untuk bergerak), akibat
adanya suatu rangsangan.
Perbedaan antara tropisme dengan taksis adalah pada taksis seluruh
organisme bergerak menuju atau menjauhi suatu sumber rangsang, tetapi
pada tropisme hanya bagian organisme yang bergerak..
Perilaku yang mencakup susunan saraf.
ü Perilaku bawaan atau naluri atau insting (instinct)
Perilaku terhadap suatu stimulus (rangsangan) tertentu pada suatu
spesies, biarpun perilaku tersebut tidak didasari pengalaman lebih
dahulu, dan perilaku ini bersifat menurun. Hal ini dapat diuji dengan
menetaskan hewan ditempat terpencil, sehingga apapun yang dilakukan
hewan-hewan tersebut berlangsung tanpa mengikuti contoh dari hewan-hewan
yang lain. Tetapi hal tersebut tidak dapat terjadi pada hewan-hewan
menyusui, karena pada hewan-hewan menyusui selalu ada kesempatan pada
anaknya untuk belajar dari induknya. Contoh:
- Pada pembuatan sarang laba-laba diperlukan serangkaian aksi yang
kompleks, tetapi bentuk akhir sarangnya seluruhnya bergantung pada
nalurinya. Dan bentuk sarang ini adalah khas untuk setiap spesies,
walaupun sebelumnya tidak pernah dihadapkan pada pola khusus tersebut.

Sarang Laba - laba
- Pada pembuatan sarang burung, misalnya sarang burung manyar (Ploceus
manyar). Meskipun burung tersebut belum pernah melihat model sarangnya,
burung manyar secara naluriah akan membuat sarang yang sama.

Sarang Burung Manyar
Untuk melakukan perilaku bawaan kadang-kadang diperlukan suatu
isyarat tertentu, isyarat tersebut disebut release atau pelepas. Release
(pelepas) ini dapat berupa warna, zat kimia dll.
- Release berupa warna, misalnya pada ikan berduri punggung tiga.
Selama musim berbiak biasanya ikan betina akan mengikuti ikan jantan
yang perutnya berwarna merah ke sarang yang telah disiapkannya. Tetapi
ternyata ikan betina akan mengikuti setiap benda yang berwarna merah
yang diberikan kepadanya. Dan benda apapun yang menyentuh dasar ekornya,
akan menyebabkan ikan betina tersebut bertelur.
- Release berupa zat kimia misalnya feromon. Feromon berfungsi sebagai
release pada berbagai serangga sosial seperti semut, lebah dan rayap.
Hewan-hewan tersebut mempunyai berbagai feromon untuk setiap tingkah
laku, misalnya untuk perilaku kawin, perilaku mencari makan, perilaku
adanya bahaya dll.
- Release berupa bintang, Sauer seorang ornitolog dari Jerman mencoba
sejenis burung di Eropa (burung siul). Burung tersebut yang masih muda
pada musim gugur akan bermigrasi ke Afrika terpisah dari induknya.
Migrasi tersebut dilakukan pada malam hari dengan bantuan navigasi
bintang-bintang. Sauer memelihara burung siul yang masih muda,
pemeliharaannya tidak mudah karena burung tersebut hanya memakan
serangga yang masih hidup dalam jumlah banyak. Bila musim gugur tiba,
burung-burung tersebut menjadi tidak tenang. Bila burung tersebut dibawa
ke dalam planetarium, melihat bintang-bintang maka burung tersebut akan
terbang ke arah tenggara, sepertinya bila di alam benas burung tersebut
menuju ke Afrika.
Dorongan berpindah pada musim gugur merupakan contoh perilaku bawaan
pada burung burung yang berulang-ulang pada interval tertentu. Perilaku
demikian disebut ritme atau periode, dan dapat berlangsung setiap 2 jam,
24 jam atau bahkan satu tahun. Banyak hewan yang mempunyai ritme
harian, seperti hewan nocturnal yang aktif setiap 12 jam sekali. Ritme
tersebut tidak akan persis sama, dapat bergeser satu jam kedepan atau
satu jam mundur. ritme yang demikian disebut circadian. Perilaku yang
dapat membedakan panjang relatif siang dan malam diatur oleh perubahan
dalam fotoperiode. Kemampuan bereaksi terhadap fotoperiode menunjukkan
bahwa hewan mempunyai mekanisme mengukur jumlah jam siang dan jumlah jam
malam atau salah satu diantaranya. Atau dengan perkataan lain hewan
tersebut mempunyai jam biologis.
ü Perilaku Yang Diperoleh Dengan Belajar (Animal reasoning and learning)
Perilaku yang diperoleh dengan belajar adalah perilaku yang diperoleh
atau sudah dimodifikasi karena pengalaman hewan yang bersangkutan yang
mengakibatkan suatu perubahan yang tahan lama dan dapat juga bersifat
permanen.
- Kebiasaan (habituation); Hampir semua hewan mampu
belajar untuk tidak bereaksi terhadap stimulus berulang yang yang telah
dibuktikan tidak merugikan. Mis: membuat suara aneh dekat anjing,
pertama-tama hewan tersebut akan terkejut dan mungkin juga takut, tetapi
setelah lama dan merasa bahwa suara tersebut tidak berbahaya, maka bila
ada suara tersebut hewan tersebut tidak akan berreaksi lagi.
- Perekaman (imprinting); Lorenz (1930) menemukan
semacam cara belajar pada burung yang bergantung pada satu pengalaman
saja. Hanya pengalaman ini harus berlangsung tepat setelah telur burung
tersebut menetas. Mis: Angsa akan mengikuti benda bergerak pertama yang
dilihatnya dan benda tersebut dianggap sebagai induknya. Karena yang
pertama dilihat adalah Lorenz, maka dia dianggap sebagai induknya.
- Reflex bersyarat; Pavlov (seorang ahli fisiologi)
mempelajari sistem syaraf hewan menyusui. Yaitu mempelajari reflex yang
menyebabkan anjing memproduksi air liur, dan menemukan bahwa melihat
atau mencium bau daging saja sudah menyebabkan anjing mengeluarkan air
liur. Pavlov mencoba rangsangan lain yang dapat menghasilkan tanggapan
mengeluarkan air liur, yaitu dengan bunyi bel. Pavlov menemukan bahwa
rangsangan pengganti harus datang sebelum rangsangan asli, supaya
tanggapannya berhasil dipindahkan. Juga semakin pendek jangka waktu
antara kedua rangsangan, semakin cepat reaksi itu melekat pada
rangsangan pengganti. Hal tersebut dapat juga terjadi pada ayam atau
merpati dengan tanda bunyi kentongan (kul-kul).
ü Metode coba-coba (trial & error learning)
Misalnya yang dilakukan Skinner dengan membuat sekat dalam kotak yang
akan mengeluarkan makanan bila ditekan. Tikus yang lapar dimasukan ke
dalam kotak. Dalam waktu singkat tikus dapat mengetahui cara mendapatkan
makanan tersebut.
Dalam suatu kotak ada dua titik cahaya, yang satu lebih terang dari
yang lain. Bila yang terang dipatuk pada bagian bawahnya akan keluar
makanan. Merpati dengan cepat akan mematuk cahaya yang lebih terang.
ü Perilaku dengan menggunakan akal
Pada umumnya dianggap bahwa suatu ciri yang membedakan hewan dengan
manusia adalah dari bahasanya. Banyak hewan yang memiliki mekanisme
pemberian isyarat yang mendekati ciri bahasa, misalnya pada lebah dengan
tariannya. Sedangkan Ann dan David meneliti simpanse betina bernama
Sarah dengan menggunakan simbol-simbol dari plastik sebagai bahasa.
Setelah 6 tahun, Sarah mempunyai perbendaharaan kata sekitar 130 buah.
Penggunaan simbol-simbol yang dapat dimanipulasi sebagai pengganti
bahasa lisan itu, merupakan bukti kecakapan simpanse tetapi tidak mampu
mengeluarkannya. Sedangkan Garner menyelidiki kemampuan simpanse betina
bernama Washoe dengan menggunakan bahasa isyarat orang tuli di Amerika
Utara. Setelah 22 bulan, Washoe sudah memahami lebih dari 30 bahasa
isyarat tersebut. Walaupun kemampuan Sarah dan Washoe belum sempurna,
tetapi kemampuannya sama baiknya dengan kemampuan seorang anak berumur 2
tahun.
PERILAKU SOSIAL
Perilaku yang dilakukan oleh satu individu atau lebih yang
menyebabkan terjadinya interaksi antar individu dan antar kelompok.
Perilaku Sosial bisa dibagi menjadi :
Perilaku Affiliative; adalah perilaku yang dilakukan
bertujuan untuk mempererat ikatan social, koordinasi antar individu dan
kebersamaan antar atau di dalam kelompok
Perilaku Agonistic
- Perilaku aggressive: Perilaku yang bersifat mengancam atau menyerang.
- Perilaku submissive: Perilaku yang menunjukkan ketakutan atau kalah.
Vokalisasi; Adalah suara yang dikeluarkan oleh satu atau lebih individu untuk berkomunikasi dan koordinasi diantara anggota kelompoknya
Perilaku maternal / mothering; Perilaku induk yang bertujuan melindungi dan memelihara anaknya
MENGHINDARI PREDATOR
Ada sekelompok kecil hewan yang termasuk super predator yang tidak
takut pada predator yang lain, tetapi pada akhirnya musuhnya adalah
manusia. Pada umumnya cara utama hewan menghindari musuh adalah dengan
berlari atau terbang. Pada hewan tingkat tinggi, melarikan diri dari
predator adalah merupakan perilaku belajar, mis : kucing dengan anjing.
Tetapi pada lalat rumah merupakan perilaku bawaan, mis : bila lalat akan
dipukul dapat menghindar, karena adanya perubahan udara di sekitarnya.
Tanda adanya bahaya itu diterima berbeda antara satu spesies dengan
spesies yang lain. Pada sejenis burung gelatik mempunyai naluri takut
terhadap burung hantu tetapi tidak takut terhadap ular, tetapi pada
spesies burung yang lain sejak lahir sudah takut terhadap ular, tetapi
tidak takut terhadap predator yang lain. Juga respon terhadap predator
bervariasi, karena meskipun predatornya sama akan memberikan tanda yang
berbeda pada waktu yang tidak sama. Misalnya antelop tidak akan
melarikan diri bila melihat singa yang berjalan ke arahnya, tetapi
antelop baru bereaksi kalau singa mengendap-endap pada semak-semak.
CARA MENGHINDARI PREDATOR
1. Perilaku Altruistik
Perilaku ini lebih mementingkan keselamatan kelompok daripada dirinya sendiri.
- Rusa (Muskoxen) di daerah tundra di Antartika, bila tidak bisa
melarikan diri dari predator (serigala) akan mengirimkan bau dari jari
kakinya yang disebut karre.
- Kera (Baboon) di Afrika bila ada bahaya misalnya dengan datangnya
singa atau leopard, maka akan membentuk formasi kera yang yang tua,
betina dan anak-anak ditengah dikelilingi oleh kera-kera muda jantan.
Sedangkan kera jantan yang menjadi raja akan berusaha mengusir atau
menyerang predator tersebut.
- Induk ayam akan bersuara ribut sebagai tanda bahaya bila dilihat ada
burung elang yang datang, anaknya dipanggil untuk disembunyikan.
- Semut yang sarangnya terganggu akan mengeluarkan feromon (asam
formiat) dari taringnya, untuk memberi tanda kepada semut-semut yang
lain, bila keadaan sudah reda asam formiat tidak dikeluarkan lagi dan
kembali lagi ke sarang.
2. Kamuflase (penyamaran)
Yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
- Burung Ptarmigan pada musim dingin berbulu putih, dan pada musim
panas bulunya berbintik membuat tidak menarik perhatian karena warnanya
sangat sesuai dengan lingkungan.

Burung Ptarmigan ; Atas : Pada saat Musim Panas; Bawah; Pada Saat Musim Dingin
- Kupu-kupu daun mati (Kallima) dari Amerika Selatan sayapnya sangat
mirip dengan daun yang dihinggapi sehingga dapat terhindar dari burung
pemangsanya, tetapi karena sangat mirip dengan daun maka kadang-kadang
ada insekta lain yang bertelur di atas sayapnya.
3. Mimikri
Yaitu menyerupai hewan yang lain, dapat dibagi menjadi mimikri Miller, mimikri Bates dan mimikri agresif.
- Mimikri Miller adalah hewan yang dapat dimakan
sangat mirip dengan hewan yang tidak dapat dimakan. Misalnya kupu-kupu
pangeran tidak mengandung racun dalam tubuhnya dan enak dimakan seperti
roti bakar, sangat mirip dengan kupu-kupu raja yang mempunyai racun
dalam tubuhnya.
- Mimikri Bates adalah hewan yang tidak berbahaya
menyerupai hewan lain yang berbahaya. Misalnya sejumlah ular di AS yang
tidak berbahaya memiliki warna seperti ular tanah yang sangat berbisa.
- Mimikri agresif adalah mengembangkan alat untuk mengelabui mangsanya. Ikan anglerfish (Antennarius)
dari Filipina mempunyai satu pemikat yang mirip ikan kecil untuk
memikat mangsanya, pemikat tersebut adalah perkembangan dari duri pada
sirip punggung pertama. Kunang-kunang jantan dan betina
saling tertarik dengan cahaya kelap-kelipnya, pola kelap-kelip ini
berbeda untuk setiap spesies. Tetapi ada suatu spesies kunang-kunang
betina yang dapat meniru kelap-kelip spesies yang lain, bila jantan
spesies yang lain itu datang akan dimakan.
Banyak hewan yang mempunyai adaptasi melindungi dirinya terhadap serangan pemangsa, misalnya :
- Duri pada landak
- Bau pada celurut
- Spirobolus (kaki seribu) mensekresi asam hidrosianat yang beracun jika diganggu.
Bila hewan telah mempunyai senjata tetapi tidak ada pemangsa yang
tahu, maka hewan tersebut berevolusi sehingga mempunyai warna yang
mencolok tanpa penyamaran sedikitpun, disebut aposematik.
Misalnya pada larva kupu-kupu raja berwarna mencolok tanpa penyamaran
sedikitpun, dan di dalam badannya terdapat zat kimia yang beracun untuk
predator yang memangsanya. Zat beracun tersebut berasal dari tumbuhan
(milkweed) yang biasa dimakan. Racun tersebut tetap disimpan sampai
larva mengalami metamorfosis. Maka burung yang memakan kupu-kupu raja
akan memuntahkannya dan tidak akan makan lagi.
Wilayah Jelajah (Home Range)
Adalah wilayah yang dikunjungi satwaliar secara tetap karena dapat
mensuplai makanan, minum, serta mempunyai fungsi sebagai tempat
berlindung atau bersembunyi, tempat tidur dan tempat kawin.
Tempat-tempat minum dan tempat-tempat mencari makanan pada umumnya lebih
longgar dipertahankan dalam pemanfaatannya, sehingga satu tempat minum
dan tempat makan seringkali dimanfaatkan secara bergantian ataupun
bersama-sama.
Teritori
Beberapa spesies mempunyai tempat yang khas dan selalu dipertahankan
dengan aktif, misalnya tempat tidur (primata), tempat istirahat
(binatang pengerat), tempat bersarang (burung), tempat bercumbu (courtship territories).
Batas-batas teritori ini dikenali dengan jelas oleh pemiliknya,
biasanya ditandai dengan urine, feses dan sekresi lainnya. Pertahanan
teritori ini dilakukan dengan perilaku yang agresif, misalnya dengan
mengeluarkan suara ataupun dengan perlakuan fisik. Pada umumnya lokasi
teritori lebih sempit daripada wilayah jelajah.
Batas wilayah jelajah dan teritori kadang-kadang tidak jelas,
misalnya terjadi pada beberapa primata, seperti Trachypithecus, Gorilla,
Pan dan berbagai jenis karnivora seperti anjing (Canis lupus).
Pada burung batas wilayah jelajah tidak jelas, Elliot Howard menemukan
pada burung pipit hanya dipertahankan beberapa jam. Tetapi ada juga yang
jelas batas-batasnya, terutama bagi satwa liar yang mempunyai wilayah
jelajah yang tidak tumpang tindih di antara individu atau kelompok
individu, seperti dijumpai pada wau-wau (Hylobates), teritori
kawin beberapa kelompok Artiodaktila dan pada anjing liar. Kesimpulannya
adalah jika individu tidak mempunyai teritori, maka wilayah jelajahnya
dapat tumpang tindih. Misalnya terjadi pada kelompok famili rusa merah (Cervus elaphus), Gajah Afrika (Loxodonta), dan kera barbari (Macaca sylvanus).
Untuk mempertahankan teritorinya satwa liar menunjukan perilaku conflict behaviour.
Aktivitasnya dengan menunjukkan aggressive display dan triumph ceremony (pada angsa).
Luas wilayah jelajah semakin luas sesuai dengan ukuran tubuh satwa liar
baik dari golongan herbivora maupun karnivora. Wilayah jelajah juga
bervariasi sesuai dengan keadaan sumber daya lingkungannya, semakin baik
kondisi lingkungannya semakin sempit ukuran wilayah jelajahnya. Selain
itu wilayah jelajah juga dapat ditentukan oleh aktivitas hubungan
kelamin, biasanya wilayah jelajah semakin luas pada musim reproduksi.
Untuk mengetahui luas wilayah jelajah satwaliar diperlukan penelitian
yang berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Berdasarkan hasil
penelitian Douglas-Hamilton di TN Lake Manyara (Afrika), yang dilakukan
lebih dari 15.000 ulangan untuk 48 unit keluarga gajah dan 80 ekor
jantan soliter, mendapatkan luas wilayah jelajah yang bervariasi antara
14-52 km2. Luas ini mungkin terlalu kecil jika dibandingkan dengan
ukuran tubuh gajah yang besar.
Penelitian Leuthold dan Sale di TN Tsavo, Kenya mendapatkan angka
wilayah jelajah rata-rata dari 4 ekor gajah sekitar 350 km2. Olivier di
Malaysia wilayah jelajahnya antara 32,4-166,9 km2.
Wilayah jelajah unit-unit keluarga gajah di hutan-hutan primer mempunyai
ukuran luas dua kali dari wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder.
Perbedaan ini tentunya disebabkan karena adanya perbedaan produktivitas
makanan pada kedua kondisi hutan yang berbeda.
Ukuran wilayah jelajah bagi jenis primata ditentukan oleh 2 faktor
utama, yaitu jarak perjalanan yang ditempuh setiap hari oleh setiap
anggota kelompok, dan pemencaran dari kelompoknya. Ukuran wilayah
jelajah dari siamang, wau-wau lar dan wau-wau agile berbeda, lihat table
di bawah.
Whitten menunjukkan bahwa faktor persaingan dan aktivitas manusia dapat berpengaruh terhadap luas wilayah jelajah bilou (Hylobates klossii).
Menurut Van Schaik penggunaan wilayah jelajah kera ekor panjang di
Ketambe (TN. G. Leuser), ada beberapa faktor ekologis yang potensial
mempengaruhi penggunaan wilayah jelajah, baik ditinjau dari pengaruh
jangka panjang maupun jangka pendek. Pola penggunaan jangka panjang pada
umumnya disesuaikan dengan pemanfaatan buah, sedang pencarian serangga
disesuaikan dengan keadaannya yang menguntungkan. Penyimpangan dari pola
ini dapat saja terjadi karena berbagai faktor, seperti adanya
lereng-lereng terjal, dan wilayah yang tumpang tindih dengan kelompok
lainnya. Kera ekor panjang menghindari lereng-lereng terjal, terutama
untuk menghindari resiko adanya pemangsa dan untuk menghemat tenaga.
Wilayah yang tumpang tindih dengan kelompok tetangga juga dihindari,
sehingga tidak terjadi pertemuan dengan kelompok lainnya. Pergerakan
adalah usaha individu ataupun populasi untuk mendapatkan sumberdaya yang
diperlukan agar dapat bertahan hidup dan menurunkan keturunan sesuai
dengan tetuanya. Ada berbagai cara pergerakan, pada umumnya dapat
dibedakan kedalam: invasi, pemencaran , nomaden dan migrasi. Pergerakan
ini dilakukan di wilayah jelajahnya, yang luasnya bervariasi, tergantung
pada jenis satwaliar, serta kualitas dan kuantitas habitatnya. Di dalam
wilayah jelajahnya, ada suatu tempat yang dipertahankan secara
intensif, disebut teritori, seperti tempat bersarang atapun tempat
makan. Pada kondisi habitat yang kaya akan sumberdaya yang diperlukan
satwaliar, ukuran teritori mereka lebih sempit (kecil) jika dibandingkan
dengan habitat yang miskin.